Kala itu Mbah Surip bercita-cita keliling dunia dengan sepeda. Namun, cita-citanya kandas.
|
|
Mbah Surip (VIVAnews/Tri Saputro) |
|
|
|
VIVAnews - Komunitas Pengamen Jalanan Bulungan berduka atas kepergian Mbah Surip. Di komunitas yang bermarkas di kawasan Blok M itulah Mbah Surip mengawali karier bermusiknya.
Pria yang memiliki nama Urip Aryanto itu bergabung dengan Komunitas Pengamen Jalanan Bulungan pada 1989. Datang dari Mojokerto, ia awalnya bergabung dengan anak jalanan di pasar kaget Blok M.
"Mbah Surip pertama kali datang menggunakan sepeda dari Mojokerto, dengan topi baretnya dan dandanannya yang serba necis, dulu rambutnya nggak bimbal," kata sahabatnya, Tony Q Rastafara, saat ditemui di Gor Bulungan, beberapa pekan lalu.
Kala itu Mbah Surip bercita-cita keliling dunia dengan sepeda. Namun, cita-citanya kandas. Ia terlanjur terlena hidup bersama para pengamen jalanan di Bulungan. "Dia memang saat itu sudah tidak betah di rumah, dan kabur ke Jakarta," kata Tony.
Mbah Surip memang memiliki pribadi yang unik. Semua hal yang dikatakannya cenderung slengekan. Sulit dibedakan kapan ia berkata jujur, kapan berkata bohong. "Kalau tidak gila ya bukan Mbah Surip," ujarnya.
Kegilaan Mbah Surip menjadi ketika sedang memegang gitar. Di bawah pohon, biasanya ia memainkan gitar dengan stelan fals berpadu lirik semaunya. Mbah Surip sering menjadikan banyolan teman-temannya sebagai lirik lagu. "Kalau sedang memamerkan lagu barunya, bisa satu hari dia nyanyi. Kalau nggak diberhentikan, nyanyi terus," ujarnya.
Perjalanan menggelandang Mbah Surip akhirnya berbuah manis. Lagu lamanya 'Tak Gendong' diunduh jutaan fansnya sebagai ring back tone. Ia pun mendadak kaya. Royalti lagu itu mencapai puluhan miliar rupiah.
Namun, semua itu tinggal kenangan. Mbah Surip meninggal dunia sekitar pukul 10.30, Selasa 4 Agustus. Ia meninggal di tengah puncak kariernya. Selamat jalan Mbah Surip ...
• VIVAnews