'Kau & Aku' : Simpul Lucu Nan Pilu
Ketika si impulsif terikat si penekun kata sabar.
Jum'at, 13 Maret 2009, 18:14 WIB
Bonardo Maulana Wahono
Philippe Bizot & Putri Ayudya (VIVAnews/Anindhita Maharrani)

VIVAnews - Seorang lelaki menanggung birahi. Di dekatnya seorang perempuan muda pertengahan umur duapuluhan terbaring lelap pada sofa. Si pria, yang wajahnya merupakan kombinasi dari keluguan dan kepasrahan, menyentuhkan telapak tangannya yang berkeringat ke tubuh si perempuan. Si perempuan terbangun dan menombak si lelaki dengan kata-kata memilukan, "Just go away!"

Mereka suami-istri. Tinggal di sebuah apartemen yang tak terlalu sumpek di tengah kota dan memiliki seorang anak. Sang suami, Louis, berbahasa Perancis dengan sempurna. Sarah, sang istri bermata-kenari, tangkas berganti kalimat dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Ia impulsif, sementara sang suami pandai menekuni makna kata sabar.

Keduanya mengawali perjumpaan di sebuah taman yang hangat di suatu sore riang. Pada sebuah bangku, mereka duduk bertukar cakap, bertumbuk pandang. Udara sore itu menyaksikan suatu klise komikal dari banyak pertemuan pertama: si lelaki adalah si serba canggung, dan si perempuan selalu bisa menjadi lava yang melumerkan. Pasangan itu terlindas batu cinta.

Philippe Bizot & Putri AyudyaHubungan cinta-benci antara kedua pasangan tersebut merupakan bingkai utama bagi Philippe Bizot, seorang seniman pantomim Perancis untuk menampilkan kegugupan sekaligus keintiman hubungan manusia.

Itu terlihat dalam pertunjukan pantomim "Kau dan Aku" di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis 12 Maret 2009. Sehari sebelumnya dipentaskan di Teater Black Box Salihara. Bizot yang kerap menggambarkan dunianya dengan penuh humor, kelembutan dan kekuatan, tampil enerjik.

Dan itu merupakan buah dari perjalanannya selama hampir 30 tahun, yang membentang dari Eropa hingga Asia. Kecintaannya terhadap dunia pantomim telah ia tunjukkan dengan menciptakan kelompok pantomim Amuki di Bolivia pada Agustus 2007, yang terdiri dari anak-anak, tuna daksa, dan juga kaum papa. Selain di Bolivia, dia juga mendirikan sekolah-sekolah pantomim di Jerman, Venezuela, Chili, dan Pakistan. "Saya tidak tahu kenapa suka pantomim. Saya hanya merasa, cuma pantomim yang dekat dengan hati saya," aku Bizot suatu ketika.

Itulah mengapa penonton merasa harus terpukau oleh penampilannya. Hal itu sudah terlihat di babak mula. Bizot menyuguhkan fase-fase awal pertemuan lelaki dan perempuan itu dengan halus. Pasca rendezvous di taman, pasangan tersebut selalu bertemu di apartemen Sarah. Louis pasti membawa bunga, dan Sarah mesti menjamunya dengan steak.

Setiap kali Louis mengencani Sarah, bunga yang dibawanya semakin bertambah banyak: sekuntum mawar, sebuket dahlia, puncaknya satu pot kecil aneka kembang. Sarah tak kalah seru. Steak yang dipanggangnya semakin bertambah gosong. Inilah klimaks yang bikin pucat: Louis ingin memberi Sarah cincin, namun si perempuan malah menjawab telepon. Gambaran sempurna pasangan bahagia, bukan?

Philippe Bizot & Putri Ayudya Adegan di bandar udara tak kalah konyol. Sarah telah tiba lebih dulu di pintu keberangkatan, terbalut panik menunggu Louis. Waktu lepas landas mepet. Debar jantung Sarah meredup ketika Louis muncul sambil menyeret koper.

 

Namun, itu bukanlah satu-satunya yang ia bawa. Si Perancis membawa banyak. Ketika ia ingin mengambil sisa bawaan, Sarah telah bertolak. Adegan lucu-tapi-haru nan legendaris itu muncul di pentas: Louis, mengatupkan rahangnya, melambaikan tangannya ke arah pesawat.

 Sarah kembali dengan membawa bayi yang seluruh kulitnya hitam seperti aspal. Louis tahu itu bukan anaknya, namun ia tetap menerima Sarah. Mereka pun tinggal bersama lagi, meski Sarah tak lagi menunjukkan cinta. Tapi mereka tak lagi berbagi selimut.

Di situ Bizot jeli. Ia memanfaatkan karakter Louis - pria kikuk dan alpa cara memanjakan istri namun mencintai Sarah dengan tulus - untuk menyindir mereka yang menihilkan hubungan intim antar manusia, yang selalu penuh kejutan.

Louis tetap mengasihi Sarah meskipun ia tahu istrinya berselingkuh. Si pria kaku itu, yang nyaris pendiam, tetap membuka hatinya pada Sarah. Ia masih membuatkan secangkir teh untuk istrinya ketika pagi sebelum berangkat kerja, meskipun minuman itu dicampakkan. Ia rela apartemen itu hanya dihiasi foto-foto Sarah belaka, tanpa ia di sisinya. Ia hanya tahu bahwa jika ia membenci Sarah, ia akan lenyap.

Ia akhirnya mendapatkan lagi kasih Sarah. Dan sesungguhnya ia patut menyitir sebaris sajak Sapardi Djoko Damono: "Aku mencintaimu, itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu."

• VIVAnews
 
komentar
asita
30/08/2009
Congratulation to mr Bizot..u are amazing...deep and full energy...
Kirim Komentar
Nama
Email
Komentar
Silahkan mengisi kode pengaman yang sesuai dengan gambar di atas.
Jika anda member Vivanews, silahkan login, atau Daftar ID anda.